Bagi yang mengenalku, mungkin akan merasa sangat bingung, “Gema? Engineer?” kata mereka sambil memincingkan mata. Bagaimana tidak? Gema seorang mahasiswa Ilmu Administrasi Negara dari FISIP UI, sedangkan yang disebut engineer biasanya seorang yang telah menempuh pendidikan teknik atau jebolannya Fakultas Teknik.
Biar kujelaskan. Ada sejarah menarik, ketika masih balita, permainan yang ku sukai bukanlah mobil-mobilan, pistol-pistolan ataupun robot-robotan tapi sesuatu yang berbeda. Aku menyukai mainan apapun yang bisa ku bongkar bahkan Aku punya tank-tank-an yang kubuat dari remote tivi, box dan botol-botolan lalu ku ikat semua dengan karet gelang.
Agak besar sedikit, kelas 2 SD jika tidak salah umurku 7.5 tahun. VCD Player saat itu merupakan sebuah teknologi baru dan tidak familiar, terutama bagi keluargaku, ajaibnya akulah yang pertama kali bisa mengoperasikannya dengan sekali pegang, walhasil ayah ibu saat itu berdecak kagum, “kamu bisa jadi Insinyur nanti” seru mereka. Aku selalu mengingat kejadian itu, kata-kata ayah dan ibu tersebut menjadi pemacu semangat untukku, di FISIP kami menyebut itu dengan Labeling. Sejak hari itu aku menganggap masa depanku adalah seorang Engineer (Insinyur) atau bahkan sorang penemu.
Saat SMP, hasratku dan impianku terhadap inovasi dan penemuan semakin besar. Aku memiliki sebuah buku yang isinya adalah desain dan deskripsi dari benda-benda penemuanku, tentu saja wah untuk seorang anak SMP. Beberapa penemuan berhasil ku wujudkan beberapa yang lain masih menjadi menjadi mimpi. Meski begitu aku tidak pernah putus asa, kebangganku bahkan dimulai dengan keberhasilan pertamaku, saat itu kelas 2 SMP aku bisa membuat kunci pintu kamarku secara elektrik, dengan bahan: Dinamo mobilmainan, stopkontak, kalkulator,2 buah baterai AAA, kabel dll. Padahal hampir saja aku dimarahi jika temuanku ini gagal. Pasalnya semua barang-barang itu masih terpakai dirumah, jika gagal, jadilah semua barang itu rongsokan, namun ketika berhasil, orang tuaku saat itu hanya tersenyum, huh, selamatlah aku. Sedangkan, penemuan yang menjadi impian terbesarku adalah Mesin Waktu, sampai-sampai saat itu aku membaca tulisan-tulisan mengenai relativitas waktu, wormhole oleh albert einstein. Aku berpikir keras bagaimana caranya melipat ruang dan waktu, seperti yang disampaikan Einstein. Aku tahu bahwa saat itu aku tidak akan mampu menjawabnya, tapi tetap saja menarik dan ada kepuasan tersendiri, serta penuh keyakinan suatu saat akan kujawab.
Semua berakhir, saat itu aku baru saja naik kelas 2 SMA, bersamaan dengan sekolah yang memvonisiku masuk kelas Pengetahuan Sosial. Karakterku yang santai, membuat setiap orang tidak dapat merasakan apa yang kupikirkan. Ya,,aku merasa kehilangan mimpi dengan seketika, bahkan vonis tersebut telah membuatku lupa hingga sekarang, dimana buku penemuan-penemuanku. Lalu kuhela nafasku sedikit, “ya jalani saja,,” hiburku dalam hati.
Dengan saran seorang ustadz, aku memilih Ilmu Administrasi Negara FISIP UI, sebagai kelanjutan petulangan keingintahuanku. Segala Puji Alloh yang membuatku dapat diterima di jurusan ini. Terhitung dua (2) semester telah kujalani, tapi aneh bahkan apa itu administrasi negara, belum bisa kupahami (bukan ku hafal).
Hingga tahun-tahun berlalu, Kutantang medan pengetahuanku yang baru, dari buku ke buku, seminar ke seminar, karya tulis ilmiah, diskusi dengan dosen, sampai dengan skripsiku sendiri menjadi alat untukku memahami apa yang sebenarnya sedang kupelajari. Dan akhirnya “DAPAT !!!!”. Aku paham apa itu administrasi negara, bukan sekedar dalam ingatan tapi benar-benar paham bahkan dengan hatiku.
Tahukah? Disaat yang sama aku kembali menemukan diriku, “AKU MASIH SEORANG ENGINEER !!!” teriakku dalam hati. Bahkan lebih hebat dari sebelumnya, sebagai seorang Engineer aku tidak lagi bersentuhan dengan dinginnya mesin, tapi dengan hangatnya darah manusia, Tahukah kenapa? karena yang akan kulakukan kini adalah SOSIAL ENGINEERING.
Jika dulu saat SMP mimpiku adalah “MEMBUAT MESIN WAKTU”, tapi kini mimpiku adalah “MENGUBAH MASA DEPAN”. ya,,membangun peradaban. Mimpiku adalah membuat sistem pemerintahan yang tidak semata-mata bertolak pada pertumbuhan ekonomi, tidak bertolak pada sistem kapitalisme ataupun sosialisme, sistem yang menjadikan masyarakatnya tidak memburu-buru uang, sistem yang bertolak pada Human Development, Capacity Building.
Hingga nanti akan kubuat buku yang berjudul: DUNIA TANPA UANG: sebuah kritik dan alternatif terbaik terhadap sistem Dunia. Dan jika para ilmuan administrasi berpedoman pada New Public Management, atau New Public Service, maka nanti mereka akan akui sebuah teori yang kujabarkan Islamic Public Service sebagai jawaban peradaban dunia. Inilah mimpiku yang baru, karena menurut salah seorang rekanku saat menjadi trainer: “Jika punya mimpi, beritahukan ke yang lain. Jika kamu lupa, merekalah yang kan mengingatkanmu terhadap mimpimu.”
Jadi kawan, dengarlah : AKU SEORANG (SOCIAL) ENGINEER!!!!!
Filed under: Tak terkategori
